AI Tanpa Internet: Kenapa Semua Orang Tiba-tiba Ngomongin Ini
Selama ini kalau dengar kata AI, yang kebayang pasti butuh internet. Buka ChatGPT, ketik pertanyaan, jawabannya datang dari server yang entah di mana. Wajar — memang begitu cara kerjanya selama ini.
Tapi belakangan ada yang berubah. Chip di laptop dan HP sekarang punya bagian khusus bernama NPU. Sederhananya: otak kecil yang memang dirancang untuk menjalankan AI. Artinya, sebagian pekerjaan AI bisa dikerjakan langsung di perangkatmu — tanpa internet, tanpa datamu dikirim ke mana-mana. Istilahnya: on-device AI.
Kenapa ini jadi penting? Bukan karena satu alasan, tapi empat. Dan ini bukan karanganku — ini kata orang-orang yang membangunnya.
Pertama: biaya. Ini alasan terbesar menurut Qualcomm. Chris Patrick, salah satu petinggi Qualcomm yang mengurusi chip HP, pernah bilang begini: kalau kamu cuma pakai chatbot seminggu sekali, ngapain repot-repot dijalankan di perangkat? Pakai cloud saja. Tapi begitu AI jadi bagian dari kegiatan sehari-hari — menerjemahkan, membuat transkrip, asisten yang selalu siaga — hitung-hitungannya berubah. Tagihan komputasi cloud membengkak. Konsumsi token Gemini saja naik tujuh kali lipat dalam setahun, di satu miliar pengguna. Setiap pekerjaan AI yang jalan di chip perangkat adalah pekerjaan yang tidak perlu dibayar ke cloud.
Kedua: privasi. Eksekutif Microsoft bilang pemrosesan di perangkat sendiri bisa menjaga informasi sensitif tetap di perangkat — tidak dikirim, tidak disimpan di server orang. Data yang tidak pernah keluar dari laptopmu ya tidak bisa bocor di jalan. Apalagi aturan soal data makin ketat di mana-mana.
Ketiga: kecepatan dan tetap jalan tanpa internet. AI yang jalan di perangkat merespons dalam hitungan milidetik — jauh lebih cepat daripada bolak-balik ke server. Dan tetap berfungsi walau tidak ada sinyal. Untuk hal-hal seperti blur background saat video call atau alat bantu medis, keterlambatan sepersekian detik saja tidak bisa ditolerir.
Keempat: baterai. Microsoft menegaskan AI-nya dijalankan di NPU, bukan di prosesor utama — supaya baterainya tidak cepat habis. NPU memang dirancang khusus untuk hitungan AI, jadi lebih hemat daya.
Tapi ada dua hal yang perlu jujur kusampaikan.
Pertama, masa depannya bukan “semua AI pindah ke perangkat”. Bahkan Satya Nadella, CEO Microsoft, bilang yang akan terjadi adalah gabungan keduanya: sebagian di perangkat, sebagian di cloud. Model raksasa yang butuh pembaruan terus tetap di cloud; yang rutin, sensitif, atau butuh respons cepat jalan di perangkat.
Kedua, label “AI PC” yang sempat ramai itu ternyata tidak laku sebagai jualan. Microsoft dan Qualcomm baru saja berhenti memakai istilah “Copilot+” — karena datanya menunjukkan orang beli laptop ya karena butuh laptop baru, bukan karena tergiur label AI. Perangkat kerasnya tetap didorong, tapi jualannya tidak lagi pakai embel-embel AI.
Jadi kalau ditanya apa urgensinya: on-device AI itu penting di empat titik — biaya, privasi, kecepatan, dan baterai. Tapi posisinya sebagai pelengkap, bukan pengganti. Dan buat kita sebagai pengguna biasa, artinya sederhana: ke depan, makin banyak hal cerdas yang bisa dilakukan laptop dan HP kita — bahkan saat tidak ada internet.
Chip seperti inilah yang berevolusi menjadi “otak AI” di perangkat modern — dari pengolah grafis hingga NPU khusus. Foto: Wikimedia Commons.
Kirim ke seseorang yang perlu membacanya.
Klik sekali buat vote, klik lagi buat batalin. Nggak perlu login.
Tulis di bawah. Beda pendapat tidak apa-apa, yang penting beradab.