Amazon: Satu Hutan, Tiga Dunia
Saya belum pernah menginjakkan kaki di Amazon, dan kemungkinan besar tidak akan pernah. Tapi justru itu yang bikin saya betah berlama-lama membaca tentangnya: tempat yang belum pernah saya lihat ini ternyata lebih liar dari imajinasi saya sendiri.
Bayangkan satu hutan yang kehidupannya bertumpuk tiga lapis — dan tiap lapis dihuni makhluk yang seolah berasal dari planet berbeda.
Lapis paling atas adalah kanopi, atap hutan puluhan meter di atas tanah. Di sanalah monyet-monyet berayun dari dahan ke dahan, kukang bergerak dalam gerak lambat yang nyaris meditatif, dan kawanan macaw merah-biru melintas sambil berteriak-teriak. Elang harpy — burung pemangsa yang cakarnya sebesar cakar beruang — berburu monyet dan kukang di antara dahan. Langit hutan ini punya ekosistemnya sendiri, nyaris tidak bersentuhan dengan apa yang terjadi di bawahnya.
Turun ke dasar hutan, dunianya berganti total. Cahaya redup, udara lembap, dan kesibukannya beda jenis: iring-iringan semut pemotong daun, masing-masing menggotong potongan daun hijau di atas kepalanya seperti payung-payung kecil yang berbaris. Yang lucu, mereka tidak makan daun itu. Daun-daun itu mereka “tanam” untuk menumbuhkan jamur — dan jamurlah makanan mereka sebenarnya. Petani-petani kecil yang sudah bercocok tanam jutaan tahun sebelum manusia mengenal sawah. Dan di antara semak yang gelap, jaguar melintas diam-diam, pemangsa puncak yang bahkan kaiman pun waspada padanya.
Lalu ada lapis ketiga. Yang menurut saya paling sureal: sungainya.
Di air keruh Sungai Amazon hidup arapaima — atau pirarucu, “ikan merah” dalam bahasa Tupi. Ikan yang panjangnya bisa tiga meter, beratnya dua kuintal, dan punya satu kebiasaan yang membuat saya mengulang baca dua kali: ia harus naik ke permukaan untuk menghirup udara. Insangnya saja tidak cukup. Kalau tidak mendapat udara dalam sepuluh sampai dua puluh menit, ia bisa tenggelam. Ikan yang bisa tenggelam — coba cerna kalimat itu pelan-pelan.
Sisiknya seperti baju zirah: keras di luar, lentur di dalam, sampai gigitan piranha pun tidak tembus. Ia pemburu yang sabar — membuka mulutnya lebar-lebar untuk menciptakan vakum yang menyedot mangsa masuk, bahkan bisa melompat menyambar burung atau kadal di dahan yang rendah.
Arapaima gigas — raksasa Sungai Amazon yang harus menghirup udara. Foto: Wikimedia Commons.
Satu sungai dengannya dihuni nama-nama tenar: piranha yang reputasinya jauh lebih seram dari perilakunya sehari-hari, dan lumba-lumba sungai berwarna merah muda — boto — yang berenang tenang di air cokelat susu. Lalu ada belut listrik, favorit saya.
Selama 250 tahun, sejak Linnaeus mencatatnya, sains mengira belut listrik itu satu spesies. Tahun 2019, peneliti meneliti 107 spesimen dari seluruh penjuru Amazon dan menemukan: ternyata tiga spesies berbeda. Salah satunya, Electrophorus voltai, menyetrum sampai 860 volt — setruman hewan terkuat yang pernah diukur manusia. Sebagai perbandingan, colokan listrik di rumah kita 220 volt. Dan ini bagian terbaiknya: baterai pertama di dunia, tumpukan volta ciptaan Alessandro Volta, terinspirasi dari hewan ini. Baterai di HP yang sedang Anda pegang — kakek buyut idenya adalah ikan dari Amazon.
Dan ini yang bikin saya tersenyum sendiri: arapaima ternyata pernah tercatat hidup di Indonesia — ditemukan di Sungai Brantas, Jawa Timur. Ikan raksasa Amazon, nyasar sampai ke sungai kita. Entah lepas dari penangkaran atau dibuang pemiliknya, tapi bayangkan nelayan Brantas menarik jaring dan menemukan ikan tiga meter yang seharusnya hidup di seberang samudra.
Yang saya bawa pulang dari lubang kelinci Amazon ini bukan sekadar fakta-fakta keren buat bahan obrolan. Tapi satu kesadaran: di satu sudut bumi, dalam satu hutan, ada tiga dunia bertumpuk — dan masing-masing masih menyimpan misteri. Belut listrik saja butuh 250 tahun untuk ketahuan bahwa ia tiga spesies, bukan satu. Kita hidup di zaman ketika rasanya semua sudah terpetakan, semua sudah bisa di-google dalam lima detik. Amazon mengingatkan bahwa peta kita masih penuh bagian kosong.
Dan mungkin itu kabar baik. Masih ada hal di dunia ini yang layak membuat kita takjub.
Kirim ke seseorang yang perlu membacanya.
Klik sekali buat vote, klik lagi buat batalin. Nggak perlu login.
Tulis di bawah. Beda pendapat tidak apa-apa, yang penting beradab.