← Semua tulisan
Cerpen

Nama yang Belum Disimpan

K
Kurniawan
1 Okt 2026  ·  4 mnt baca
Nama yang Belum Disimpan
Foto: detikcom

Laila baru saja memberi tanda centang pada tagihan kartu kredit ketika terdengar ketukan. Ia meletakkan pena di atas buku, menoleh ke jam dinding, lalu bangkit. Lewat pukul sembilan. Biasanya sudah tidak ada tamu.

Di luar berdiri seorang lelaki dengan helm di tangan.

“Abang yang sol sepatu di pasar, ya?”

“Iya, Bu Laila. Maaf malam-malam.”

Ia mengangguk beberapa kali, meskipun Laila baru bertanya sekali. Ibu jarinya berusaha memasukkan ujung tali helm ke pengait. Lepas. Dicobanya lagi.

“Sekarang kiosnya pindah ke mana?”

“Sudah tutup, Bu. Sekarang saya jadi kuli bangunan.”

Laila ingat rak kosong di bawah tangga pasar. Hampir sebulan lalu ia lewat dan mendapati tempat itu sudah bersih. Waktu itu yang dipikirkannya hanya ke mana harus membawa sepatu jika jahitannya lepas lagi.

Lelaki itu mulai bicara sebelum ia sempat menanyakan hal lain.

“Anak saya di rumah sakit, Bu. Istri saya masih di sana. Dari tadi saya…”

Ia berhenti, menarik napas, lalu mengulang bahwa istrinya sedang menunggu. Kata-katanya keluar cepat, sesekali tersangkut. Ada bekas semen di celananya. Kedua tangannya bergetar ketika ia memindahkan helm dari satu tangan ke tangan lain.

“Saya masih kurang empat ratus ribu. Kalau Ibu bisa bantu. Saya sudah bingung harus cari ke mana lagi.”

Laila memegang tepi pintu.

Selama mengenalnya, ia terbiasa melihat tangan lelaki itu memegang sepatu dengan mantap, membaliknya, menunjukkan bagian yang rusak. Pernah ia datang sambil mengeluh karena sepatu kerjanya kembali terbuka di samping. Lelaki itu mengambilnya, memeriksa jahitan, lalu menyuruhnya duduk dulu.

“Masih bisa dipakai, Bu.”

Sepatu itu sekarang ada di rak dekat pintu.

“Anaknya sudah berapa lama di sana?”

“Dari kemarin, Bu.”

Laila mengangguk. Ia mendengarkan penjelasan berikutnya, tetapi angka empat ratus ribu sudah membuat sebagian pikirannya kembali ke meja makan.

Bulan baru berjalan tiga hari. Gajinya baru masuk. Di buku yang terbuka tadi, uang itu sudah dibagi untuk belanja, listrik, ongkos kerja, dan tagihan. Pada usia empat puluh lima, Laila masih sesekali menutup kekurangan dengan kartu kredit. Bulan lalu, dua kali belanja dapur masuk ke sana. Tagihannya baru saja ia beri tanda centang.

Empat ratus ribu ada. Ia tahu persis di mana menyimpannya.

“Saya sedang…”

Ia berhenti. Kalimat bahwa ia sedang tidak punya uang hampir keluar begitu saja.

Lelaki itu menunggu.

“Sebentar, Bang.”

Laila masuk dan membuka laci. Di dalamnya ada amplop uang belanja yang baru ia isi. Ia mengambil empat lembar seratus ribuan, meratakannya di telapak tangan.

Kalau seluruhnya diberikan, ia masih bisa berangkat kerja besok. Listrik sudah dibayar. Di dapur masih ada beras. Untuk malam itu, memberi penuh terasa mungkin sekali.

Kemudian ia menghitung hari menuju gajian berikutnya. Hampir sebulan. Belanja belum selesai. Ada kebutuhan yang selalu luput ketika ia membuat daftar. Biasanya baru terasa menjelang akhir bulan, saat ia berdiri di kasir dan memilih kartu kredit lagi.

Ia menoleh ke buku di meja. Satu angka harus diubah, lalu angka lain akan ikut berubah.

Di teras terdengar suara lelaki itu berdeham.

Laila ingin membawakan keempat lembar itu. Ia juga berharap, untuk sesaat saja, lelaki tersebut belum datang malam ini. Pikiran itu membuatnya menunduk pada uang di tangannya.

Sudah lama ia jarang memberi di luar pengeluaran yang direncanakan. Kabar buruk biasanya datang lewat grup percakapan. Ia membaca beberapa baris, menutupnya, lalu kembali pada urusannya. Pernah ia merasa bersalah karena begitu cepat melupakan. Belakangan, ia bahkan tidak memikirkan kebiasaan itu lagi.

Malam ini orangnya masih menunggu di teras.

Laila membayangkan harus datang ke rumah seseorang pukul sembilan malam, menyebut jumlah yang dibutuhkan, lalu diam sambil orang itu masuk mengambil keputusan. Mengulang kabar tentang anak sendiri kepada orang yang selama ini hanya ditemui untuk urusan pekerjaan.

Ia merasa belum tentu sanggup. Setelah beberapa kali ditolak, ia pun tidak yakin akan tetap memilih jalan yang selama ini dianggapnya benar. Dari rumahnya sendiri, mudah sekali mengatakan bahwa orang seharusnya mencari cara lain.

Ia memisahkan dua lembar dari empat yang dipegangnya. Dua lembar ia kembalikan ke amplop. Dua lainnya dilipat, lalu dibawa keluar.

Ia sudah menyiapkan penjelasan: ini baru awal bulan, kebutuhannya masih banyak, ia hanya bisa memberikan separuh. Di pintu, kalimat itu terasa panjang sekali.

“Ini, Bang.”

Lelaki itu menerima uang dengan kedua tangan. Tanpa membuka lipatannya, tanpa melihat berapa yang diberikan, ia langsung memasukkannya ke saku.

“Terima kasih, Bu. Terima kasih.”

“Itu…”

Lelaki itu sudah mengangguk dan berpamitan. Laila membiarkannya mengenakan helm. Kali ini ia menunggu pengaitnya terpasang sebelum mengatakan semoga anaknya segera membaik.

Setelah suara motor menjauh, Laila masih berdiri sebentar di pintu. Ia belum sempat menjelaskan jumlah yang diberikannya. Ia juga tidak tahu ke mana lelaki itu akan mencari kekurangannya.

Di meja, ia menambahkan pengeluaran dua ratus ribu. Pada kolom keterangan, ujung penanya berhenti.

Lelaki itu tahu namanya. Ia sendiri belum pernah menanyakan nama lelaki tersebut. Sampai sekarang pun ia belum tahu.

Ia menulis: abang sol.

Lalu ia membuka laci lagi. Dua lembar seratus ribuan yang dikembalikannya tadi masih berada di atas amplop belanja. Ia memasukkannya sampai ke dasar amplop, menghitung sisa uang di dalamnya, kemudian mencocokkannya dengan angka baru di buku.

Hitungannya sudah benar. Ia memeriksanya sekali lagi.

#Cerpen #Fiksi
Bagikan tulisan ini

Kirim ke seseorang yang perlu membacanya.

Gimana artikel ini menurutmu?

Klik sekali buat vote, klik lagi buat batalin. Nggak perlu login.

Punya pendapat lain?

Tulis di bawah. Beda pendapat tidak apa-apa, yang penting beradab.

Tulisan terkait
Menghemat Tanpa Arah: Ketika Gaji Dipotong tapi Bisnisnya Nggak Dicari 9 Okt 2026 AI Tanpa Internet: Kenapa Semua Orang Tiba-tiba Ngomongin Ini 9 Okt 2026 Amazon: Satu Hutan, Tiga Dunia 5 Okt 2026