Dunia Baik-Baik Saja Sebelum AI — Lalu Apa yang Sebenarnya Dikejar?
Coba kita jujur sebentar pada diri sendiri: sebelum AI datang, dunia baik-baik saja.
Saya masih ingat masa SMA sekitar tahun 2011 sampai 2014. Pagi berangkat sekolah, siang nongkrong sama teman, malam mengerjakan tugas — kadang mencontek, kadang begadang. Tidak ada yang merasa hidupnya kurang lengkap karena belum ada mesin yang bisa menulis esai dalam sepuluh detik. Kita tertawa, kita sedih, kita jatuh cinta, semuanya berjalan sebagaimana mestinya. Dunia tidak kekurangan apa-apa.
Lalu sekarang, coba buka berita teknologi hari ini. Isinya AI lagi, AI lagi. Minggu ini model baru, minggu depan perusahaan lain meluncurkan yang lebih besar. Investasinya bukan main-main: ratusan triliun rupiah digelontorkan seolah-olah ini perlombaan yang tidak boleh berhenti sedetik pun. Rasanya seperti menonton balapan tanpa garis finis — semua tancap gas, tapi tidak ada yang tahu sebenarnya mau sampai di mana.
Di sinilah saya mulai bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang meminta semua ini?
Saya tidak ingat pernah duduk diam lalu berpikir, “hidup saya kurang karena belum ada AI.” Kebutuhan manusia itu, kalau mau jujur, sederhana sekali: perut kenyang, keluarga sehat, tidur nyenyak, dan sedikit rasa tenang. Tidak ada satu pun dari daftar itu yang kemarin-kemarin berteriak minta dibuatkan chatbot.
Jadi apa yang sebenarnya dikejar?
Kalau saya perhatikan, yang dikejar sepertinya bukan kebutuhan manusia — melainkan empat hal lain. Pertama, gengsi antar raksasa teknologi. Siapa yang paling dulu, siapa yang paling besar. Berhenti sebentar saja dianggap kalah, jadi semuanya terus lari. Kedua, uang. AI adalah mesin hype paling ampuh sedekade terakhir: valuasi naik, saham terbang, modal mengalir. Ketiga, kekuasaan. Siapa yang menguasai AI, dialah yang ikut menentukan arah dunia ke depan. Dan keempat — yang paling sunyi tapi paling kuat — ketakutan. Negara takut tertinggal dari negara lain. Perusahaan takut disalip kompetitor. Akhirnya semua ikut-ikutan menggenjot, bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan.
Ironisnya, teknologi ini katanya dibuat “untuk manusia”. Tapi kapan terakhir kali manusia diajak duduk dan ditanya, “kamu sebenarnya butuh apa?” Kita tidak pernah diminta pendapat. Kita hanya disodori hasil balapannya, lalu dipaksa menyesuaikan hidup dengannya.
Jangan salah paham, saya bukan anti-AI. Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, AI sangat membantu pekerjaan saya sehari-hari. Tapi ada bedanya antara memakai alat dan dikejar-kejar oleh alat. Hari ini rasanya kitalah yang dikejar: dikejar update, dikejar tren, dikejar rasa takut ketinggalan.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak — bukan berhenti memakai AI, tapi berhenti sejenak untuk bertanya: semua kegilaan ini sebenarnya untuk siapa?
“Teknologi seharusnya menjawab kebutuhan manusia, bukan menciptakan kebutuhan baru agar manusia terus berlari.”
— Kurniawan, September 2026
Kirim ke seseorang yang perlu membacanya.
Klik sekali buat vote, klik lagi buat batalin. Nggak perlu login.
Tulis di bawah. Beda pendapat tidak apa-apa, yang penting beradab.