Dua Sisi Cermin Teknologi: Antara Kemudahan AI dan Kekhawatiran Masa Depan
Mendewasa di era kini adalah sebuah perjalanan yang mencengangkan. Jika saya menengok kembali ke masa-masa SMA di rentang tahun 2011 hingga 2014, sudah begitu banyak hal yang berubah drastis di berbagai sektor kehidupan. Mulai dari pergeseran tren musik, dinamika politik di Indonesia yang saat ini seolah nyaris tanpa oposisi, hingga lompatan teknologi yang sebelumnya mungkin tak pernah terbayangkan.
Salah satu disrupsi terbesar saat ini tentu saja adalah kehadiran Kecerdasan Buatan (AI). Mari ingat-ingat kembali: dulu, untuk memahami satu rumus matematika saja, kita butuh waktu pengulangan berkali-kali. Terkadang kita harus bertanya kepada teman yang lebih paham agar bisa diajari dengan cara atau analogi yang lebih sederhana. Lalu, bagaimana dengan saat ini? Kita hanya perlu bertanya kepada AI, “Bagaimana cara mudah memahami rumus ini?” dan jawabannya tersaji secara instan di depan mata.
Setiap perubahan, betapapun hebatnya, pasti selalu membawa sisi pro dan kontra. Secara pribadi, disrupsi AI ini sangat banyak membantu pekerjaan dan kehidupan saya sehari-hari. Namun, tidak bisa dipungkiri ada kekhawatiran mendalam yang terus mengusik: bagaimana perubahan teknologi ini memengaruhi cara kerja otak kita, terutama di masa yang akan datang?
Sebagai seorang ayah, kekhawatiran itu memuncak saat menyadari betapa mudahnya AI diakses saat ini—bahkan secara gratis tanpa perlu biaya langganan. Anak-anak balita masa kini sudah sangat terbiasa dengan screen time dan fasih mengoperasikan smartphone layar sentuh. Sangat mungkin, atau bahkan sudah pasti, ke depannya mereka akan mampu mengoperasikan AI dengan amat sangat mudah. Ketakutan terbesar saya adalah AI hanya akan dijadikan jalan pintas—sebagai mesin pencari “kunci jawaban” instan yang mengikis proses belajar dan berpikir kritis itu sendiri.
Dengan latar belakang saya di bidang IT, dulu saya terbiasa mencari celah—seperti mengotak-atik pengaturan untuk mengaktifkan VPN—demi menembus batasan internet dan mengeksplorasi lebih banyak hal. Hal-hal teknis semacam itu dulunya hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memang “paham” teknologi. Namun, di era AI saat ini, batas kesenjangan itu seolah lebur. Seseorang yang dulunya ‘gaptek’ dan mungkin hanya mengerti urusan administrasi dasar, kini bisa memahami dan mengeksekusi hal-hal teknis yang rumit hanya dengan panduan interaktif dari AI.
Bagi saya, AI saat ini ibarat konten dewasa (adult content) tanpa filter yang memadai. Sekalipun ada batasan atau regulasi yang dibuat oleh pengembangnya, celah untuk memanipulasi dan mempelajari hal-hal yang tidak semestinya masih sangat terbuka lebar bagi siapa saja.
Saya sangat berharap ke depannya akan ada batasan, regulasi, dan kesadaran yang lebih bijak terkait ekosistem AI ini. Sebagai penutup untuk refleksi ini:
“Sesuatu bisa saja bekerja untuk hal baik, namun seperti cermin, selalu ada sisi gelap di baliknya.”
— Kurniawan, Agustus 2026